SELAMAT DATANG DI BLOG SPECIAL, ANDA PENGUNJUNG KE:

20 September 2009

HARI ISTIMEWA

Lampung, 20 September 2009. Hari ini tepat saat Ummat Muslim merayakan Hari Raya Idhul Fitri 1430 H sebagai hari kemenangan melawan segala hawa nafsu, sebagai hari yang kita kembali fitroh, suci bagaikan seorang bayi yang baru lahir. Tepat dihari Raya Nan fitri ini, 44 tahu yang lalu terlahir seorang bayi laki-laki mungil yang diberi nama oleh kedua orang tuaku MUHAMMAD KHUDORI. Sebagai orang kampung, aku bukan lahir di Rumah Sakit dengan penanganan yang dilengkapi dengan peralatan serba canggih, namun hanya ditangani oleh seorang dukun beranak seperti yang dilakukan pada ibu hamil umumnya dikampung. Betapa besar resiko yang harus dihadapi oleh seorang ibu, bukan hanya kebahagian yang didambakan, namun resiko kematianpun menghadang bagi setiap ibu yang melahirkan.

Setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan dari Cirebon ke Lampung, dimana antara Kerawang ke Cikampek aku terjebak kemacetan yang parah sekali dimana 6 km harus ditempuh dengan 6 jam, akhirnya aku yang berangkat pukul 6.30 tiba di Tanjungkarang pukul 02.30 dinihari, dan langsung makan sahur terakhi runtuk Romadhon tahun ini. Pagi hari aku bersama anak-anakku Titi, Abang dan Vina serta Kakak Iparku Mbak Nung dan Bang Indra serta putranya Tata ke Pringsewu, dengan tujuan utama ziarah ke makam orangtuaku. Teramat singkat aku mengunjungi makam kedua orangtuaku, hanya beberapa menit saja. Sungguh karena hari ini teramat istimewa bagiku, kehadiranku ke makam keduaorangtuaku yang terletak bersebelahan, begitu menggetarkan hatiku. Betapa tidak, konon aku yang berselang 10 tahun dengan kelahiran kakakku, untuk mendapatkan aku begitu banyak ikhtiar yang telah dilakukan, aku baru menyadari sepenuhnya betapa kasih sayang ibu bapakku begitu tulus dan begitu besarnya. Maafkan Bapak Ibu, putramu yang hanya setahun sekali mengunjungi kuburmu, itupun hanya kulakukan untuk beberapa menit saja. Ya Alloh, puji syukur kehadlirat-Mu yang telah memberikan kasih sayang kepada kedua orangtuaku, yang telah sekian lama terbujur kaku dalam kuburnya, ampuni dosa-dosa kedua orang tuaku Ya Alloh, lapangkan kuburnya, jauhkan dari siksa kubir dan api neraka dan masukkan mereka berdua bersamaku dan keluargaku ke dalam Firdaus-Mu. Amin3.

Sungguh betapa besar rasa kasih sayang kedua orangtuaku kepadaku. Aku mencoba mengingat, semasa kecilku, rasanya tidak pernah aku dimarahi oleh ibuku, dan bapakku hanya beberapa kali memarahiku, itupun dalam rangka menegakkan kedisiplinan padaku. Aku yang semasa kecil hobby main bola, pernah dimarahi bapakku karena sampai maghrib belum pulang. Aku rasakan kedisiplinan yang ia terapkan aku rasakan manfaatnya setelah aku dewasa. Balaslah segala amal baiknya Ya Alloh.

Ada peristiwa yang lucu aku dapatkan pada saat usai mendoakan kedua orangtuaku bersama kakak iparku dan anak-anak serta ponakan. “Lihat, betapa hebatnya seseorang, betapa kayanya seseorang, pasti akan mati dan didalam kubur sendiri, tidak ada yang dibawa kecuali amal baik. Anak-anak, jadi kalian harus berbuat baik sama mama-papa, dan terhadap siapapun juga agar kelak bahagia. Suatu saat kalian juga akan mati dan dikuburkan seperti ini.” Dasar anak-anak, dengan spontan mereka berkata; “ Kita khan masih kecil, matinya masih lama.” Masya Alloh, ketawa kami dibuatnya. Namu tepat didekat kubur kedua orangtuaku ada juga kubur seorang anak kecil, jadilah bahan pengajaran buat anak-anak, “Tu lihat, Alloh kalau mau mengambil nyawa kita tidak hanya yang sudah gede saja, lihat tu kuburan anak kecil itu, anak-anakpun bisa meninggal. Makanya kalian dari kecil harus nurut sama orang tua, banyak berbuat baik sesama.” Kebetulan saat akan pulanh, mataku tertuju pada sebuah kubur yang hanya beberapa cm saja panjangnya terletak diantara 2 kubur orang dewasa, aku kebayang, ini bisa jadi ibunya meninggak bersama bayinya saat melahirkan. Sungguh betapa besar pengorbanan seorang ibu. Maka tidak heran kalau Sorga berada dibawah telapak seorang ibu.
Blogger, dihari yang istimewa ini tak lupa aku ucapkan SELAMAT HARI RAYA IDHUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN.

12 September 2009

ULANG TAHUN KETIGA

Tepat tiga tahun yang lalu pada Bulan September ini aku dipindahtugaskan dari BRI Syariah Cirebon ke BRI Syariah Yogyakarta. Bila malam itu tiga tahun lalu aku disambut gempa susulan yang aku sendiri tertidur pulas tanpa merasakan apapun, beberapa malam lalu kejadian yang sama menimpaku, saat Gempa Wonosari 6,8 SR, sementara banyak warga yang merasakan dan sebagian besar penghuni hotel berhamburan keluar, akupun terlelap tidur tanpa tahu sama sekali yang terjadi. Masya Alloh, betapa lemahnya aku, bila malam itu sampai merobohkan banguan, bisa jadi aku tertidur tanpa terbangun lagi, padahal, biasanya di kantor aku paling peka merasakan adanya getaran gempa, kawan2 kantor sudah paham. Biasanya sebelum ada getaran yang aku rasakan adanya suara gemuruh terlebih dulu.

Selama tiga tahun penugasanku di Yogyakarta, selama 3 tahun ini pula aku tinggal di hotel yang setiap saat tamunya gonta-ganti, meski rata-rata mereka tinggal beberapa bulan disini. Hampir tiap minggu aku pulang ke Cirebon, kalau aku hitung-hitung setahun katakanlah 40 Minggu aku pulang, berarti jarak yang kutempuh sejauh 3 th x 40 mg x 318 km x 2 (pulang pergi) yang berarti sejauh 76.320 km atau hampir 2 kali keliling dunia. Subhanalloh, semua harus kujalani dengan ikhlas demi menjalankan tugas dan yang terpenting untuk memberikan nafkah bagi keluarga.

Tak terasa, 3 tahun berlalu anak-anakku semakin tumbuh, Anakku yang pertama yang saat aku di Cirebon masih di Play Group saat ini telah duduk di kelas 4, sementara ketiga adiknya juga sudah semakin tumbuh. Alhamdulillah, meski aku jauh, tak banyak bisa mendidik, prestasi anak-anakku cukup membanggakanku. Puji Syukur Ya Alloh dan terima kasih Istriku tercinta, yang telah mendidik buah hati kita, I Love you all.

Selama tiga tahun aku tinggal dihotel ini, sudah tidak lagi terhitung orang-orang yang keluar masuk yang rata-rata tinggal dengan lawan jenis tanpa ikatan. Sungguh sebuah kondisi yang sangat ironis terjadi di negeri yang punya lebel berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Wajar saja kalau negeri ini tidak pernah lepas dari berbagai bencana. Seperti yang aku dengar dari ceramah Ustad saat tarawih beberapa waktu lalu setelah terjadinya Gempa Bumi di Tasikmalaya, yang dinukilkan dalam hadist yang kurang lebihnya; “Manakala penduduk sebuah negeri telah banyak melakukan maksiat maka Alloh akan menurunkan bencana.”

03 September 2009

DITEGUR IBU KOS

Setiap orang yang waras tentu mempunyai keinginan untuk bisa hidup lebih baik, lebih bermakna dan tentunya adanya dukungan finansial yang memadai. Kecuali....orang edan, yang tidak pernah memikirkan dirinya sendiri apalagi memikirkan orang lain termasuk anggota keluarganya. Hidupnya hanya terdorong oleh nafsu haus dan lapar, selain itu gak pernah terlintas tentang kehidupan. Nggak percaya ? Coba aja EDAN dulu biar yakin. He...he.....

BRI Syariah, tempatku mencari nafkah saat ini bisa kuibaratkan seperti kepompong yang telah berubah menjadi kupu-kupu yang terbang menyongsong cahaya yang terbit dari ufuk timur. Jika sebelumnya segala sesuatunya serba sangat terbatas, serba apa adanya, setelah spin off aku rasakan demikian banyak hal-hal baru yang kutemui. Dengan mengganti system yang sudah usang, yang saat ini terus dikembangkan, penampilan yang serba baru, gedung yang megah, budaya baru, dan....tidak kalah pentingnya karyawan juga banyak yang baru dan bertambah banyak. Ini konsekwensi dari pengembangan organisasi yang luar biasa.

Guna mendukung bisnis yang ada, BRI Syariah Yogya juga menambah unit kerja yang baru disamping relokasi gedung yang sudah ada ke tempat yang lebih strategis, lebih representatif dan lebih luas. Konsekwensinya, jumlah tenaga Security pun bertambah, kalau semula hanya 7 orang, sekarang menjadi 14 orang. Di hotel tempatku tinggal, sebenarnya banyak karyawannya yang ingin ikut bekerja ditempatku, tentu ini karena penghasilan ditempatku jauh lebih besar dibanding di hotel. Melihat mereka, aku sering merasakan kasihan, namun rasanya tidak mungkin kalau aku main comot sekian banyak orang. Jauh sebelumnya sudah ada seorang Security hotel yang akhirnya bergabung ditempatku. Belum lama ini untuk memenuhi kebutuhan tenaga Security, salah satu karyawan disini bergabung dengan Security di BRI Syariah. Ya ini karena aku melihat dia layak untuk jadi security dan orangnya supel, ramah dan postur tubuhnya memenuhi syarat.

Sore itu, saat aku pulang kantor dan hendak mengambil kunci kamar di receptionist, disitu berdiri ibu kos dengan beberapa orang receptionist dan room boy. Tiba-tiba saja ibu kos berbicara; “Wah karyawan saya diambili Pak Khudori ya ?” Saya dengan serta merta langsung menjawab; “Bukan saya mengambili Bu, mereka mendaftar sendiri ke Perusahaan Outshourching, dan ditempatkan di Perusahaan tempat saya bekerja. Jadi mereka bukan pegawai BRI Syariah.” Dan seterusnya....aku terlibat pembicaraan ringan. Ya, intinya mereka khan berkeinginan untuk merubah nasib. Sebenarnya aku masih butuh beberapa orang lagi untuk cleaning service, namun jadi serba gak enak kalau mau menerima mereka. Blogger mungkin ada saran ?

25 Agustus 2009

TUHAN MENGIRIMKAN PESAN

Rekan-rekan Blogger yang tercinta, sebelumnya aku mohon maaf kalau belakangan ini agak jarang memposting artikel diBlog kos-undercover, bukan karena kehabisan bahan tapi karena sejak Bank tempatku mencari nafkah mulai berdiri sendiri, kesibukanku begitu luar biasa, Tidak jarang aku harus pulang malam sehingga sampai di kos-kosan terasa begitu cape. Disamping itu, untuk memanfaatkan waktu yang sangat berharga di Bulan suci Romadlon ini, mari kita lebih meningkatkan ibadah agar derajat taqwa kita semakin bertambah. Insya Alloh masih banyak lagi artikel yang akan saya posting.

Aku termasuk orang yang senang mengamati kehidupan “orang-orang kecil,” entah kenapa, tapi dari situ aku seringkali mendapatkan hikmah ternyata begitu banyak yang telah diberikan Alloh padaku sekeluarga. Alhamdulillah, Ya Alloh, tetapkan hati hamba untuk pandai mensyukuri nikmat-Mu yang setiap saat dilimpahkan padaku sekeluarga, dan juga bukakan hati rekan-rekan Blogger agar mampu mengambil hikmah dari berbagai aspek kehidupan untuk meningkatkan ketaqwaan mereka. Amin.

Setiap kali aku pulang ke Cirebon, terutama saat naik beca dari stasiun Kejaksan ke rumah pada dini hari, ada saja yang menjadikan bahan renungan dibenakku. Malam itu, jarum jam menunjukkan tepat pukul 01.00, saat Kereta Senja Utama memasuki Stasiun Kejaksan Cirebon. Seperti biasa, didepan pintu keluar aku langsung disambut tukang beca, dan yang membuatku salut mereka sangat teratur, sama sekali tidak berebut penumpang. Manakala satu orang tukang beca berdiri, yang lainnya tetap duduk dilantai. Rupanya antrian tak tertulis telah diberlakukan oleh mereka. Malu rasanya kalau melihat para intelektual, pejabat, dan siapapun yang dinamakan manusia yang banyak terjadi di Indonesia saling berebut harta kekayaan dengan cara-cara yang sangat dilarang, ambillah hikmah dari apa yang dilakukan oleh para tukang beca. Merekapun sudah tahu, berapa tarif sebenarnya sesampainya di rumahku, dan berapa biasanya aku memberikan ongkos ke mereka. (Maaf Blogger, bukan maksud riya’, sayapun membayar secara normal, dan terkadang cuman tak beri sedikit lebih lho, tapi melihat rasa syukur mereka yang begitu tulus dan ikhlas, rasanya syukur mereka akan tembus ke langit yang ketujuh. Insya Alloh. Bagi Blogger uang sedikit seperti itu mungkin sama sekali tidak berarti, namun ternyata masih begitu banyak saudara kita yang masih begitu menghargai recehan, sen demi sen).

Malam itu, aku dapat tukang beca sebut saja Mbah Bejo. Dalam obrolanku di tengah jalan, aku baru tahu kalau Mbah Bejo saat ini sudah berusia 68 Tahun. Ya Alloh, aku langsung terdiam setelah Mbah Bejo menuturkan umurnya yang sudah demikian tua tapi masih giat mencari nafkah dengan mengayuh beca. Mau tumpah rasanya air mataku. Orang setua Mbah Bejo yang seharusnya tinggal menikmati hari tuanya, baginya itu suatu keniscayaan. Namun aku begitu kagum, yang penting mendapatkan rezeki dengan cara halal, tidak harus mengemis, tidak harus mengharapkan belas kasihan dari orang lain, tidak harus melakukan korupsi ataupun kejahatan lain cukup dengan mengayuh becak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Akupun tidak terlalu banyak bertanya, soalnya beberapa kali aku ajak ngobrol jawabannya nggak nyambung, aku sadar, kemungkinan karena usianya yang telah renta maka pendengarannya ketajamannya sudah begitu berkurang. Dan aku pikir penglihatannyapun juga sudah mulai berkurang, terbukti beberapa kali ban becanya masuk ke lubang yang membuatku terhentak, namun semua aku nikmati tanpa keluhan sepatah katapun. Saat mau melintasi jembatan, dengan cekatan Mbah Bejo turun dan mendorong becanya, pengin aku mau turun, tapi karena terhalang tas, aku tetap duduk dan Mbah Bejo terasa begitu ringan mendorong becanya. Aku tidak mengerti apakan anak istrinya masih ada, tapi kalau anaknya masih ada dan telah “menjadi orang” aku tak bisa membayangkan betapa perjuangan Mbah Bejo untuk mempertahankan hidup begitu berat diusianya. Semoga Alloh menjadikan apa yang ia kerjakan sebagai ladang ibadah, dan kelak Mbah Bejo dimuliakan disisi-Nya. Amin.

11 Agustus 2009

KISAH MR BON 7 (HONDA KHARISMA)

Dari sekian banyak wanita-wanita penjaja cinta yang telah bersama MR BON, ada seorang yang belakangan paling lama mendampinginya, sebut saja Tanti. Parasnya yang memang agak lumayan manis dan usianya yang relatif masih muda dibanding yang lain-lain yang pernah bersamanya, yakni sekitar 35 tahunan, menjadikan MR BON merasa begitu betah bersamanya. Pada kunjungan berikutnya, Tanti inilah yang senantiasa mendampinginya. MR BON sendiri kalau menyebut Tanti selalu menggunakan kata BOJOKU, puih.... la kok nggak ada bedanya dengan ayam, tanpa ikatan pernikahan apapun kok bisa-bisanya ngaku BOJO. Jika dilihat dari perbedaan usia sebenarnya lebih pantas seperti seorang Bapak dengan anak ragilnya. Tapi itulah dunia yang penuh kesesatan, iblis yang telah memutarbalikkan kebenaran menjadikan kedua insan ini lupa akan segalanya, umur, kematian, keluarga, masa depan dan dosa.

Sempat waktu istriku berlibur di Yogya tahu “gendaan” MR BON tersebut, ya kata istriku cukup manis. Kebetulan MR BON dan Tanti cukup lama menjadi tetangga kamarku. Saat ini kalo istriku melihat Tanti, kemungkinan akan pangling, badannya yang sedikit kurus saat itu sudah berubah menjadi tambun, rambutnya yang hitam terurai sudah dipotong pendek mirip Yuni Sara dan di cat merah. Kemana-mana pergi juga sudah kelihatan modis dan berkaca-mata hitam. Yach,...dengan doku dari MR BON si Tanti telah dipermak habis untuk penampilan yang lebih wah. MR BON pun merasa begitu bangga bersamanya. Kesetiaan Tanti yang cukup lama menyertai MR BON, termasuk bila bepergian kemana-mana, yang biasanya naik beca akhirnya berbuah manis buat si Tanti. MR BON membelikan sepeda motor Honda Kharisma yang bisa digunakan untuk mobilitas lebih tinggi. Wah...wah..... Tanti merasa seperti seorang ratu, padahal..... kawan2 hotel kalau melihat mereka berdua benar-benar “Nggilani.” Dari perilakunya, MR BON memang sering aneh2, disamping suka gonta-ganti pasangan, penjual nasi didepan hotelpun disikat, yang selalu berusaha untuk mencium Pak De, sampai-sampai punya keahlian menyuntik silikon untuk memperbesar rudal seseorang. Tamat.

08 Agustus 2009

KISAH MR BON 6 (TELANJANG BULAT)

MR BON bak JAMES BOND 007, kemana-mana selalu berurusan dengan wanita, tak terkecuali saat tinggal di hotel. Disisi lain MR BON membawa serta rombongan dari negara asalnya. Kalau kita tidak pernah menanyakan dari mana asal-usul mereka tentu tidak akan pernah mengira kalau rombongan mereka ternyata WNA, ya bagaimana tidak, mereka yang dulu saat jaman penjajahan menjadi kuli kontrak dan dipekerjakan paksa di Suriname, kebanyakan orang-orang Jawa tulen. Yang membedakan mereka tidak bisa berbahasa Indonesia, namun fasih berbahasa Belanda dan Jawa. Bentuk fifiknya juga persis dengan orang-orang jawa era empat puluhan, dengan tinggi badan yang relatif masih pendek, sekitar 155 cm dengan kulit yang cenderung berwarna gelap.

Salah satu anggota rombongan MR BON sebut saja Sutini, seorang wanita paruh baya, ya... tidak bisa lagi dikatakan muda. Usia mungkin sekitar 45 tahunan, dengan badan yang sudah melar menunjukkan ia sudah bukan lagi seorang gadis. Badannya agak sintal dan rambutnya keriting dengan kulit sawo matang, tapi matangnya kayaknya sudah cenderung bonyok, kalau tidak bisa dikatankan pembawalap alias perempuan berbadan gelap. Tidak ada yang aneh selama ini pada Sutini, hari-harinya dijalani dengan biasa. Setelah bangun pagi, biasanya Sutini, MR BON dan kawan-kawannya ngerumpi di kursi dekat kolam renang depan kamarku. Selanjutnya siang hari ia sering pergi bersama rombongan. Entah kemana perginya aku gak tahu. Kalau dikatakan ngurusi korban gempa, lha wong semua sudah kembali normal kok, mungkin ya karena mereka merasakan kerindual yang begitu dalam terhadap kampung halamannya, Tanah Jawa.

Siang itu ada sesuatu yang aneh pada diri Sutini. Ia yang tinggal dikamar seberang kamarku, yang tidak dilengkapi dengan AC, mungkin sedang merasakan gerahnya udara Kota Gudeg. Saat Pak De, temanku lewat depan kamarnya, pintunya tidak ditutup, secara sepontan mata Pak De melirik ke dalam kamar Sutini, dan alangkah terkejutnya Pak De, ternyata Sutini tanpa menutup badannya dengan sehelai benangpun tidur tengkurap. Kontan saja seisi hotel langsung heboh, waduh...ayak...ayak... wae tuh Wong Jowo yang jadi WNA. Masya Alloh, Sutini...Sutini..., Ngono yo ojo Ngono, ini negeri yang berpenduduk mayoritas muslim, bukan kota nudis, tau sopan santun sedikit kenapa ?

29 Juli 2009

KISAH MR BON 5 (MIKIR MATI)

Kehidupan di dunia ini merupakan salah satu siklus yang dialami bagi setiap makhluk Alloh yang telah ditentukan masanya oleh-Nya. Tak terkecuali manusia yang diciptakan sebagai khalifah di muka bumi, Alloh telah menentukan umurnya sejak Zaman Azali, jauh sebelum kita diciptakan. Jika sudah sampai saatnya, sedikitpun kita tidak akan bisa menolak ataupun menundanya, dimanapun tempatnya dan kapanpun waktunya. Maka tidak jarang orang yang masih muda belia, bayi, anak-anak, remaja, orang dewasa ataupun yang sudah kakek-nenek dengan tiba-tiba meninggal dunia mendahului orang-orang tercinta disekitarnya. Cukup banyak ayat-ayat Al Qur’an yang tentang kematian, salah satunya dalam QS Al Ankabut 29 yang artinya; “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. “ Dari ayat tersebut telah di tegaskan, setiap yang berjiwa akan merasakan mati, baik itu golongan manusia, hewan, bakteri, jin, malaikat dan seluruh makhluk ciptaan-Nya, hanya Dialah sang Khalik yang hidup kekal selama-lamanya.

Rosulpun telah mengajarkan kepada segenap ummatnya untuk selalu mengingat akan mati, sebab dengan mengingat mati kita akan menyadari bahwa kehidupan di dunia ini tidak lebih dari seperti seorang musafir yang sedang mampir minum. Hanya sebentar saja, rerata 60 tahunan, sementara kita berada dalam alam kubur mungkin bisa ribuan tahun dan di akherat kelak akan kekal selama-lamanya. Untuk itulah kita perlu membekali diri untuk menyongsong kehidupan nan abadi, kehidupan haqiqi yang ada pangkal tak ada ujung dimana disitu seseorang akan mendapatkan kenikmatan yang belum pernah terbayangkan dan belum pernah ada di dunia atau mendapatkan siksa yang Maha Keras jika masuk ke neraka. Na’udzubillah.

Alkisah sore itu, temanku Pak De ketemu MR BON yang dilihat paginya habis menggandeng perempuan tua. Setelah bla...bla.... ngobrol dengannya, Pak De akhirnya pada pembicaraan selanjutnya memberikan “petuah” pada MR BON, “Wong ya sudah tua MBOK YA MIKIR BAKAL MATI.” Hem..... dengan begitu ringannya ternyata MR BON memberikan jawaban yang tak diduga-duga “ Oalah Pak De, MATI KOK DIPIKIR.” Ya kalau MR BON termasuk orang Atheis atau orang Kafir yang tidak mempercayai akan adanya kehidupan akherat, tidak mempercayai akan adanya hari kebangkitan, dimana hanya dengan tiupan Sang Sakala kita bakal dibangkitkan untuk menjalani pengadilan akherat yang Maha Adil, wajar saja kalau dia berucap seperti itu. Tapi sejujurnya saya juga tidak tahu agama apa yang MR BON anut, karena semua aktifitasnya hanya terbatas urusan duniawi saja. Tidak pernah aku melihat akan aktifitas dia mempersiapkan diri untuk menyongsong kehidupan yang berhubungan dengan kehidupan pasca kematian.

22 Juli 2009

KISAH MR BON 4 (RINDU KAMPUNG HALAMAN)

Sebagai prajurit di salah satu Bank Plat Merah, aku harus selalu siap untuk ditempatkan di setiap bagian dan dimanapun di unit kerja Bank berada. Ya inilah yang namanya mencari sesuap nasi dan segenggam berlian. Konsekwensinya bila membawa keluarga persis kayak kucing yang baru beranak, pindah sana pindah sini sambil menggigit anak2nya (nggak bisa digendong kayak Mbah Surip). Dampak lain yang tidak aku ingini, anak-anak jadi kehilangan kampung halaman, masa kecil yang biasanya akan diingat sepanjang masa, hilang, enggak tahu lagi siapa yang menjadi teman2nya saat itu. Atas dasar pertimbangan tersebut menjadikan salah satu alasan aku untuk berpisah sementara dalam menjalankan tugas, sementara istri dan anak-anakku tetap di lain kota.

Kisah kerinduan kampung halaman juga terjadi pada MR BON. Sebagai Orang Jawa tulen yang terlahir di Suriname dan sekarang tinggal di Belanda, saat ke Indonesia kerinduan melihat kampung halaman tempat para leluhurnya dulu muncul. Kebetulan MR BON punya leluhur dari daerah yang sama denganku, yakni daerah Purworejo, Jawa Tengah. Alkisah, hari itu MR BON minta diantarkan oleh PAK DE, kawanku kos, untuk ke Purworejo. Setelah ditanya Purworejonya dimana, MR BON tidak bisa menunjukkan lokasi tepatnya. Pokoknya Purworejo ! Mungkin dalam benaknya Purworejo itu sebuah kampung kecil, yang orang2nya sekampung kenal semua. Aku sendiri pernah mengalami kisah yang menggelikan. Dulu sewaktu aku berkunjung ke saudaraku di Purworejo, tapi bukan dikotanya, sekitar 20 km dari Kota Purworejo, pernah aku ditanya, “ Mas Khudori di Lampung kenal sama Parmin ?” Aku langsung menimpali; “Lho Mas, Lampung itu Propinsi lho bukan Ndeso, lha kalau sebelumnya tidak pernah ketemu saya ya ndak kenal tho ? Hem.... kalau Parmin tu seorang artis, tokoh, atau malah teroris bisa saja dia gak kenal aku tapi mungkin aku tahu dari media meski belum pernah ketemu, pikirku.

Atas kebaikan hati Pak De, akhirnya MR BON diantarkan ke Purworejo. Dengan mengendarai sebuah Jeep, setelah menempuh perjalanan 60 km dari Yogya, sampailah mereka berdua di Purworejo. Tanpa pikir panjang, MR BON oleh Pak De dibawa ke Alun-Alun Purworejo dan disampaikan ke MR BON; “Nah ini Purworejo !” Dasar Pak De, ngerjain orang tua saja, akhirnya MR BON hanya terbengong-bengong, enggak tahu mau kemana. Kali MR BON juga berpikir nggak mungkin lah orang tuaku dulu dilahirkan ditengah alun-alun ! Ya meski sudah tidak tahu lagi dimana para leluhurnya dulu berasal dan dikuburkan, sekedar untuk mengetahui dari daerah mana leluhurnya berada, cukuplah sampai di Alun-Alun Purworejo yang bisa dijadikan cerita untuk teman-temannya dan keluarganya di Negerinya.


19 Juli 2009

KISAH MR BON 3 (INGAT TUHAN)

Pernah dalam rangka tugas plus-plus-nya MR BON tinggal dikamar 108, tepatnya disamping kamarku yakni 107. Aku pada awalnya merasa risih juga begitu tau dia mengambil kamar disampingku. Sempat aku ngomel sama receptionis kenapa harus ditempatkan di kamar sebelahku ? Jawaban klasik pun muncul, karena atas permintaan dia dan kebetulan kamar tersebut pas kosong. Ya, karena lokasi yang paling strategis dan paling nyaman, tiga kamar dilantai 1 yang langsung menghadap kolam renang termasuk kamarku adalah kamar2 yang sangat dikehendaki para tamu. Namun sebagian besar tamu yang berlangganan dan keluar masuk hotel telah tahu kalau ketiga kamar tersebut dihuni cukup lama oleh orang2 yang ngekos cukup lama, termasuk diriku yang telah mendekati 3 tahun. Untuk kedatangan yang akan datangpun MR BON maunya tinggal di kamar 108 lagi, namun karena sudah terisi sama pasangan KALBU alias Lokal dan Bule yang sudah cukup lama, hanya tersedia kamar-kamar yang lainnya. Namun tetap saja aku bertetangga dengan kerbo-kerbo dikiri kanan (maaf Blogger, kalau mereka yang pada melakukan kumpul kebo, rasanya juga pantes khan kalau penghuninya aku panggil kerbo ?).

Benar juga, selama MR BON tinggal di kamar 108, suasana sekitar kamar menjadi cukup gaduh. Tamu-tamunya setiap hari selalu berdatangan, dan cilakanya karena didepan kamarku persis ditepi kolam renang terletak meja dan kursi taman, disitu menjadi tempat mangkal para wanita penjaja cinta yang suka menemani MR BON. Ya tinggal mau yang mana, MR BON langsung tunjuk. Tawa ria dan canda diantara wanita penjaja cinta seringkali aku dengar dari dalam kamar. Blogger, jangan buru-buru mengatakan “Wah enak dong bisa cuci mata ?,” bagiku rasanya mata malah tambah sakit. Ya kalau yang dilihat orangnya kayak Luna Maya, pasti Bloggerpun sangat ingin untuk sering-sering bermain ke tempat kosku. Lha...ini, seperti yang aku ceritakan sebelumnya, wanita-wanita tersebut yang barangkali sudah lebih pantas kita panggil SIMBOK, so pasti Blogger-pun bisa ngebayangin seperti apa penampilan mereka. Blass.... gaka ada kata menariknya sama sekali kok. Aku sendiri jadi sangat heran, kenapa ya kok MR BON milihnya orang2 seperti itu, bukannya cari yang muda, cantik, dan pasti itu bisa tinggal hubungi saja broker-broker yang ada seperti juga yang dilakukan Bapak-Bapak penikmat surga dunia yang lain.

Pernah suatu ketika aku pas pulang kantor, begitu sampai didepan kamar aku melihat MR BON sedang menikmati minum teh dan hidangan ringan di meja depan kamarku, seperti biasa selalu ditemani oleh wanita. Tidak lama kemudian muncul dari belakangku wanita yang lain, dan langsung bertanya kepada temannya “SUDAH SHOLAT BELUM ?” Masya Alloh, hanya kalimat itulah yang aku ingat dari obrolan mereka, namun yang membuatku terhenyak, sebagai mana fitrah manusia yang telah diciptakan oleh-Nya, meskipun mereka telah bergelimang dengan dosa, apakah kalimat tersebut merupakan kalimat yang serius atau hanya kepura-puraan belaka, sungguh aku tak mengerti. Tapi intinya mereka masih tetap INGAT TUHAN. Ya tapi untuk apa kalau cuman INGAT TUHAN tanpa menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya ? Sama juga lah kalau aku sebagai seorang Banker punya nasabah, terus nasabahnya ngomong SAYA INGAT DENGAN HUTANG SAYA KOK tetapi cuman ingat dan tidak mau bayar, Bloggerpun kalau digitukan pasti marah bukan ?

14 Juli 2009

KISAH MR BON 2 (TUA-TUA KELADI)

Usia MR BON yang telah mencapai 67 tahun bukanlah usia yang muda lagi. Pada usia tersebut sudah sepantasnya MR BON dipanggil Kakek alias Simbah, ya karena seusia dia memang sudah bau-bau tanah. Bagi kaum muslimin, usia segitu sama artinya sudah mendapatkan bonus 4 tahun, jika dibandingkan dengan usia Nabi Muhammad SAW yang wafat pada usia 63 tahun (Hijriyah) yang tentunya berbeda dengan jumlah tahun Masehi. Usia seperti MR BON seharusnya lebih banyak digunakan untuk melakukan pendekatan diri kepada Sang Khalik, karena harus disadari setiap saat maut akan menjemput. Manakala maut telah menjemput, yang sakarotul mautnya lebih sakit dari sayatan-sayatan pedang yang paling tajam, tidak akan ada lagi arti sebuah penyesalan. Segala kenikmatan yang ada didunia akan ditinggalkan, dan hanya amal sholeh saja yang akan menghantarkannya kepada Sang Khalik. Tapi tidak demikian yang terjadi pada MR BON. Seperti pepatah yang mengatakan TUA-TUA KELADI, SEMAKIN TUA SEMAKIN MENJADI.

MR BON bersama teamnya menjalankan tugasnya selama beberapa bulan, setelah itu mereka kembali ke Negaranya. Selang beberapa bulan kemudian secara periodik mereka datang untuk terus melanjutkan missi kemanusiaanya dan terus kembali lagi kenegaranya, begitu seterusnya. Selama aku tinggal di hotel ini mereka akan segera datang untuk yang keempat kalinya. Dari satu sisi kita tentunya sangat menghargai upaya Pemerintah mereka yang telah mengirimkan Team Medis, dan juga terhadap Team Medis tersebut yang telah banyak membantu para korban gempa. Disisi lain, setiap kedatangan MR BON selalu menjadikan hotel ini tambah meriah, bukan hanya dia kedatangan para koleganya, orang-orang yang pernah ditolongnya tetapi juga kedatangan para wanita penghibur yang berusaha mencari kepeng darinya. Memang patut diakui keroyalan MR BON terhadap orang-orang yang telah dikenalnya yang begitu mencolok. Sejumlah uang senantiasa ia berikan, tak lupa setiap ia keluar hotel, tak jarang pulangnya membawa oleh-oleh untuk para Room Boy. Jadilah para Room Boy disini merasa begitu senang setiap kali kedatangan MR BON.

Pada awalnya aku merasa bingung begitu melihat MR BON gonta-ganti pasangan. Yup.... tunggu dulu Blogger, Anda pasti mengira para Wanita yang dibawa oleh MR BON adalah wanita-wanita cantik nan seksi yang tinggi dan cantiknya kayak Manohara dan bibirnya seksi kayak Monalisa serta mata indahnya seperti Lady Diana, atau paling tidak seperti Para Wanita yang bergelut di dunia Agen Rahasia seperti mereka yang mengelilingi James Bon 007. Hem.... kalau para wanita yang mengelilinginya seperti itu, akupun akan berdecak kagum. Ya.... ampyun....., kalau Blogger juga membayangkan seperti itu sungguh salah besar. Wanita-wanita yang dibawanya gonta-ganti berasal dari SARKEM alias Pasar Kembang, sebuah daerah lokalisasi di belakang Malioboro !!! Hey,.... bagi Blogger yang belum tahu SARKEM, kalau ke Yogya gak usah tanya2 disebelah mana ya. Kecuali bagi Anda yang telah berusaha mencari pacar namun ditolak dan punya prinsip CINTA DITOLAK, SARKEM ISIK BUKAK ya silahkan-silahkan saja dengan segala konsekwensi ditanggung sendiri. Terus gimana ujudnya wanita2 penjaja antara paha tersebut ? Sungguh tak terbayangkan !!! Banyak diantaranya adalah para wanita yang biasa dikonsumsi oleh para tukang becak dengan tarif Goceng !!! Sungguh loh ! Silahkan kalau Anda yang belum pernah tahu untuk beimajinasi sendiri. Tapi itulah MR BON, dengan usianya yang sudah mendekati Maghrib tapi kalau menyangkut urusan yang satu itu, benar-benar gila, MAKIN TUA MAKIN MENJADI.

08 Juli 2009

KISAH MR BON 1 (BERMULA DARI MUSIBAH)

Blogger, untuk beberapa posting kedepan akan saya paparkan KISAH MR BON yang sebenarnya merupakan kisah lama, namun sebentar lagi MR BON akan kembali lagi ke Hotel ini.

Setiap kali kejadian akan membawa hikmah, dan ini penting untuk dijadikan pengalaman guna meningkatkan ketakwaan. Alloh tidak akan membebankan suatu cobaan kepada ummat-Nya yang tidak sanggup ditanggungnya, di depan Dia semua sudah terukur. Namun tidak semua orang akan mampu mengambil hikmah, apalagi bagi orang-orang yang hatinya telah beku, pandangan matanya telah diputarbalikkan oleh kesesatan sehingga tidak mampu lagi untuk memahami kebenaran dan terjadi kecenderungan perilaku yang menyimpang yang semakin jauh dari norma-norma yang telah ditetapkan agama.

Berawal dari kejadian Gempa Yogya 27 Mei 2006 yang telah menghentakkan dunia, dimana jumlah korbannya cukup banyak, meski kalau dilihat dari skala Richter tidak terlalu besar, namun karena kedangkalan pusat gempa sanggup meluluhlantakkan Yogya dan sekitarnya. Hal tersebut didukung dengan banyaknya rumah-rumah lama dimana konstruksinya banyak menggunakan campuran kapur dan tidak dilengkapi beton bertulang sehingga sama sekali tidak tahan gempa. Banyaknya korban jiwa tersebut mendorong komunitas internasional untuk mengulurkan tangan membantu Masyarakat Yogya yang sedang mengalami musibah. Salah satu negara yang peduli yang dulu ratusan tahun menjajah Indonesia yakni Belanda dengan mengirimkan team medis yang dipimpin oleh MR BON.

MR BON sendiri adalah seorang Dokter yang telah berumur 67 tahun dan Asli Keturunan Wong Jowo yang lahir di Suriname, sebuah negara di Amerika Latin yang saat penjajahan dulu digunakan Belanda untuk menampung para kuli kontrak untuk menggarap perkebunan dan dijadikan budak disana. Dengan kemajuan jaman, tidak sedikit Wong Jowo di Suriname yang akhirnya mengenyam kemajuan, ada yang jadi Mentri, Pejabat lain dan tak terkecuali MR BON yang menjadi seorang Dokter. Adanya hubungan penjajahan dimasa lalu, menjadikan MR BON yang sempat mengenyam pendidikan di Belanda akhirnya menjadi Warga Negara Belanda dan tinggal di Belanda. Atas pertimbangan KeJawaannya ini maka dengan adanya musibah gempa bumi yang dahsyat tersebut MR BON dan teamnya dikirim ke Yogya dalam waktu yang cukup lama. Selama itu pula MR BON dan teamnya tinggal di hotel tempatku tinggal. OK Blogger, kedepan silahkan kisah-kisah uniknya pada orang yang sebenarnya sudah mulai bau-bau tanah tersebut.

29 Juni 2009

UJIAN KEIMANAN

Aku punya seorang teman (sebenarnya ia teman Istriku yang cukup akrab) yang cerdas dan pandai merangkai kata-kata. Hobbynya yang suka membaca dan ditunjang intelegensianya yang tinggi, sering dia tuangkan dalam kisah-kisah singkat di Facebook yang banyak membuat orang terpesona, terpana dan haru dan bahkan tidak sedikit yang yang meneteskan air mata. Cukup layak sebenarnya dia untuk menjadi seorang penulis yang mempunyai nilai jual.

Salah satu kisah yang pernah kubaca dan cukup membekas dibenakku adalah kisah “SLILIT.” Meskipun kisah itu dia sebutkan saduran dari bukunya Emha Ainun Najib, namun dengan ditambah dengan sedikit ulasan dan kritikan, sebenarnya bisa menjadi bahan sindiran bagi siapapun yang hidup curang, korup, dan mengambil hak orang laindengan tidak syah. Cerita singkatnya sebagai berikut : Malam itu ada seorang Kyai yang selesai menghadiri hajatan dirumah warga setempat bersama-sama santrinya. Usai menikmati makan malam, mereka berpamitan pulang dengan berjalan kaki. Saat melintasi rumah warga yang terbuat dari kayu, Sang Kyai mencongkel sedikit kayu (yang digunakan sebagai pengganti tusuk gigi) untuk menghilangkan ‘SLILIT’ yang menyangkut digiginya. Rupanya dari hal yang sangat kecil inilah justru menjadikan penghambat Sang Kyai untuk masuk ke Surga.

Sekilas, cerita diatas seakan-akan terlalu mengada-ada, namun bila dihayati, sebenarnya setiap ucapan serta tindakan sekecil apapun yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban didepan Alloh SWT kelak, sebagaimana firman Alloh SWT dalam Quran Surat An Nisaa’ Ayat 40 yang artinya : “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” Bukal hanya sekedar kayu sebesar lidi, setiap hal sebesar zarrah/atom yang mata kita sendiri tidak akan mampu melihatnya, niscaya akan mendapatkan balasan dari-Nya. Alangkah indahnya kehidupan di dunia ini dan di akherat kelak, manakala setiap Anak Adam memahami dan mengamalkan Ayat Al Qur’an tersebut. Korupsi, pencurian, perampokan, penipuan, riba tidak akan ada. Mungkin juga tidak akan terjadi kehidupan dengan jurang yang demikian dalam antara Si Kaya dan Si Miskin di dunia ini. Namun semua itu hanyalah mimpi, apalagi di Indonesia yang begitu telah merajalelanya perilaku korupsi dan kejahatan lainnya.

Kemranjen, nama sebuah daerah mendekati Kota Gombong kalau dari arah Cirebon. Sebagai anak kos, hampir tiap minggu akupun melewati daerah ini. Malam itu, tepat pukul 24.00 Travel Fadila yang menjadi langgananku berhenti untuk mengisi bahan bakar di POM BENSIN Kemranjen yang masih baru. Aku sendiri baru sekali ini berhenti di POM BENSIn tersebut. Kemegahan POM BENSIN ini sangat luar biasa. Keindahan dan sentuhan artistik ada disetiap bagian, mulai dari Gazebo, dinding, Musholla, tempat wudlu yang airnya mengalir dari sederetan “Guci Antik” sampai restorasinya yang asri. Sebagian besar bagian bangunan terus masih dilakukan finishing. Yah, untuk membuat sebuah POM BENSIN membutuhkan investasi yang extra besar, antara Rp. 5 Milyar hingga Rp. 18 Milyar bahkan jauh lebih besar dari itu, dengan masa BEP selama 10 tahun. Tentu orang-orang yang berkelebihan uang yang mau berpikir untuk membangunnya. Dan, sangat memungkinkan bisnis semacam ini menjadi lahan empuk untuk Money Loundring.

Sambil menunggu pengisian BBM, aku memanfatkan untuk buang air kecil. Sederetan WC yang baru siap menampung air seni Anda. Tapi, wuih... ternyata aku masuk kok ya aromanya menyengat, mungkin ada orang yang masuk dan kencing sembarangan. Tepat didepan pintu keluar terletak sebuah kotak untuk menampung Uang Kebersihan yang digembok dengan menggunakan gembok yang cukup besar. Belum ada tulisan berapa besar tarifnya, namun yang saya tahu, bisa dikatakan seragam, di POM BENSIN manapun umumnya ditulis “MANDI RP. 1.500, KENCING RP. 1.000,-“ (Blogger, saya pernah membuat bingung penjaga kotak kebersihan demikian setelah aku tanya; “Mas kalau orang mandi tapi juga kencing terus bayar berapa ?”) sebagaimana aku yang setiap mandi hampir dipastikan juga kencing. Sebagai seorang yang super jujur pasti ANDA akan membayar Rp. 2.500,- bukan ?

Saat aku membuka dompet untuk membayar “Ongkos Kencing” ternyata tidak ada uang ribuan, yang ada adalah pecahan Rp. 100.000,- dan... Alhamdulillah masih terselip lembaran Rp. 5.000,- Aku teringat cerita SLILIT dari kawanku. Sebenarnya kalau aku mau curang, bisa saja langsung kutinggalkan kotak tersebut, toh enggak ada yang jaga dan melihatnya kecuali Alloh SWT dan Malaikat-Nya.Ujian Keimananpun datang, jadilah aku kencing dengan membayar Rp. 5.000,- yang tak letakin saja diatas kotak tersebut. Akupun malas kalau harus menukar ke Cassier POM BENSIN yang jaraknya cukup jauh, sementara Travel sudah menunggu didekat WC. Tak terbayangkan, seandainya saya ataupun Anda mengalami hal yang sama dan di dompet hanya ada pecahan uang Rp. 100.000,- ataupun Rp. 50.000,- yang kalau di Cirebon bisa mendapatkan hampir 1 tanki air isi ulang yang berharga Rp. 125.000,- ? Bisa-bisa saya ataupun Anda mengabaikan untuk tidak membayar, ah.... cuman seribu perak aja kok, apa artinya dengan investasi puluhan milyar ? Astaghfirulloh, justru dari uang seceng itulah bisa menjadi penghalang kita untuk masuk Surga !!! Bagaimana dengan para koruptor yang telah banyak memakan uang uang negara dan mengisap keringat rakyat ? Mungkin akan lebih elegan kalau dalam kotak seperti itu diberi tulisan standar tarifnya dan ditambahi “KAMI IKHLAS ANDA TIDAK BAYAR BILA TIDAK ADA UANG RIBUAN” sehingga orang-orang yang tidak bawa uang receh tapi jujur tidak terbebani di akherat kelak, dan bagi pemilik POM BENSIN bisa menjadi lahan amal tersendiri. Terima kasih temanku, Bu Rinche, yang telah mengajari arti sebuah kejujuran, semoga apa yang telah Anda tuliskan bisa menjadi amal baik disisi-Nya kelak. Amin.

17 Juni 2009

TANGISAN PEMUDA DI DEPAN AYAHNYA

Semakin berkembangnya volume bisnis dan tuntutan pengembangan organisasi, perusahaan tempatku bekerja mulai merekrut tambahan tenaga, terutama tenaga dibidang pemasaran. Aku telah diamanahi oleh Direksi untuk melakukan rekruitmen tenaga pemasar, dan Alhamdulillah beberapa orang telah bergabung dengan perusahaan tempatku berkarya. Ya, bak sari madu di kelopak bunga yang senantiasa diburu oleh kawanan tawon yang terbang bebas. Terbayang begitu banyak orang yang bersaing untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, kalau melihat kondisi tersebut, alangkah berdosanya aku kalau tidak pandai mensyukuri apa yang telah Dia berikan padaku.

Dari sejumlah tenaga pemasar yang telah kurekrut, diantaranya adalah dua orang wanita. Satu diantaranya, sebut saja namanya Cantik (bukan nama sebenarnya). Pada awalnya aku sedikit ragu akan kemampuannya, berhubung saat wawancara timbul kesan bahwa yang disodorkan adalah calon-calon nasabah yang berkutat disekitar Pasar Beringharjo saja, yang sekala usahanya sebagian besar masih tergolong mikro. Wah kapan targetku akan tercapai. Tapi ada satu hal yang sungguh membuatku terkagum-kagum, dan inilah mungkin sebagai jalan Tuhan untuk mempertemukan Cantik denganku dan bergabung di perusahaan yang kunakhodai di Yogyakarta. Cantik adalah seorang muallaf, belum terlalu lama, baru sekitar 5 tahunan. Sebelumnya dia dari kalangan Nasoro yang taat. Sungguh kalau Allah menghendaki sesuatu, hanya dengan Qun Fayaqun, maka yang harus terjadi maka terjadilah. Termasuk Cantik, dengan tiba-tiba saja dia bisa membaca Surat Al Fatihah dan membaca tulisan Arab tanpa belajar sama sekali. Subhanalloh. Akhirnya sekeluarga Cantik memeluk Islam, Alhamdulillah, mereka telah mendapatkan hidayah dari-Nya.

Sejenak aku mencoba untuk menyingkirkan keraguanku, kucoba Cantik untuk memberikan data calon nasabah dalam waktu seminggu, dan ternyata dalam waktu singkat dia telah memberikan sejumlah calon nasabah yang cukup memadai. Atas dasar data yang diberikan, membuatku semakin mantap untuk merekrutnya. Dan, Alhamdulillah, Cantik memang type pekerja yang tanggungjawab, gampang beradaptasi, mudah bergaul, ramah dan mempunyai bakat yang tidak sedikit termasuk jiwa seninya cukup menonjol. Tidak rugi rasanya aku merekrutnya, meski baru berjalan sebulan lebih, sudah tampak beberapa konstribusi yang diberikan.

Sabtu sore, 13 Juni 2009 saat aku berada di Cirebon dikejutkan adanya SMS masuk yang mengabarkan kalau Cantik ditabrak mobil dari belakang. Innalillahi Wainnaillaihi Roji’un. Alkisah, saat berada di depan Taman Pintar, Cantik yang sedang berboncengan motor tiba-tiba mengerem mendadak karena yang didepannya juga mendadak ngerem. Tak disangka, dibelakangnya ada sebuah mobil yang dikendarai seorang pemuda dengan ayahnya tiba-tiba menabrak motor Cantik. Si Pemuda rupanya sedang gak konsentrasi, dan gubrak..... Karena kerasnya benturan, Cantik yang kala itu berboncengan dengan temannya, bagian dada menghantam setang motor, bukan itu saja bagian perut juga menghantam bagian depan motor. Karena kerasnya benturan, saat itu juga Cantik langsung muntah darah, dan terjadi blooding juga dari kemaluannya. Motornyapun bagian belakangnya ringsek. Masya Alloh.... dalam kondisi demikian Sang Ayah dari pemuda yang mengendarai mobil kok ya tega-teganya masih menyalahkan Cantik, maunya lepas tanggungjawab. Sementara sang pemuda yang menyadari betul bahwa dia melamun, sampai menangis melihat tingkah ayahnya. Cantik dibawa ke salah satu Rumkit terdekat, dan ditinggalin uang Rp. 50.000,- Duh kacian bener tuh Cantik, manalagi dianya kos di Yogya, mamanya lagi cek jantung di Jakartasehingga tidak dikabari dan ayahnya bekerja di Surabaya. Cantik akhirnya minta pulang, namun tidak lama kena anfall, dan akhirnya di rawat di salah satu RS. Yang menabrak setelah dikabari bahwa Cantik dirawat di Rumkit, akhirnya menengok. Sekali lagi dia memberi uang Rp. 1 juta, tapi sambil ngedumel, ini khan sudah ditanggung assuransi dll, Ya Rob..... moga Cantik diberi ketabahan dan kesembuhan, sadarkan kepada orang2 yang punya ego begitu tinggi. Amin.

10 Juni 2009

ANAK BAIK-BAIK

Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya manakala tidak terlalu capek setelah seharian menjalankan aktifitas di Kantor, aku berenang. Kebetulan malam itu tidak banyak yang ngejebur di kolam renang seperti malam sebelumnya, dimana sebagian orang saya perhatikan berkelakuan aneh. Bagaimana tidak, kadang ada diantara mereka yang berenang tengah malam, pukul 24.00 s/d pukul 02.00 dinihari. Bukan hanya berenang, aktifitas lebih banyak dipakai untuk berendam dan yang sangat kampungan sambil berendam dan bercengkerama sambil merokok. Ya akibatnya abu rokok masuk ke kolam renang.

Setelah berenang sekitar 1 jam, aku bersama Kang Erot dan temannya duduk di kursi tepi kolam renang tepat di depan kamarku sambil menikmati pisang goreng berbalut susu coklat dan jus sirsak. Seperti biasa, kesempatan seperti itu tidak jarang untuk mendiskusikan para penghuni hotel yang punya kelakuan macem-macem, ada yang punya hobi menipu, tidak bayar kamar hotel, ada yang bergonta-ganti pasangan dan banyak hal aneh lainnya. Belum usai kami ngobrol, tiba-tiba Angel, PSK yang paling lama bertahan di hotel ini terlihat membuka pintu kamarnya. Semula aku sama sekali tak peduli, karena aku memang tidak pernah terpikir bertegur sapa dengannya meskipun para penghuni hotel bilang kalau dia cantik, ada wajah Arabnya, dan bahkan kawankupun juga ada yang tertarik dengannya, bagiku, hal terbaik dan paling aman tidak melakukan interaksi apapun dengan orang-orang demikian kecuali kalau mereka membuka diri untuk bicara masalah2 agama, meski aku tidak banyak pengetahuan. Aku agak kaget juga karena tiba-tiba dia mendekati kami yang sedang ngobrol. Seperti biasa, dengan pakaian yang super ketat dan celana super mini yang memperlihatkan sebagaian besar tubuhnya, justru aku merasa muak dan jijik. Dia berani mendekat pasti karena ada Kang Erot disitu. Dengan tiba-tiba saja Angel menanyakan ada rokok tidak, tentu saja kami yang tidak merokok justru kaget juga kok Angel menanyakan rokok. Tanpa kami jawab dia langsung ngomong “ANAK BAIK-BAIK, GAK ADA ROKOK.” Ya Alloh, dalam kebejatannya ternyata dia masih nyadar kalau apa yang dilakukan sejatinya tidak baik, aku tidak berucap hanya pikiranku mengatakan demikian.

06 Juni 2009

NGUPING OBROLAN

Belakangan ini hari-hariku teramat sibuk, disamping beberapa kali tidak sempat pulang ke Cirebon, yah...nasib anak kos, seringkali di Kantor sampai malam untuk menyelesaikan segala pekerjaan. Hari Jum’at lalu, 5 Juni 2009 ada acara launching gadai syariah di Kanca dan Capem yang dihadiri rekan2 dari KP dan juga My Big Boss. Alhamdulillah serngkaian acara berjalan lancar, dan hari itu juga sudah cukup banyak orang yang menggadaikan emas. Usai acara dan makan malam di Iga Bakar Sapi Bali di daerah Monjali yang rasanya mak nyusss...., selanjutnya aku mengantarkan ke Bandara Adisucipto Yogyakarta. Setelah usai check in, aku tidak menunggu sampai take off, karena Pesawat Garuda baru take off jam 19.45 sementara aku belum siap2 untuk pulang ke Cirebon dengan naik Kereta Bima (Biru Malam) pukul 22.14.

Aku tiba di Stasiun Tugu pukul 19.30, dan tepat pukul 22.05 Kereta Bima dari Surabaya memasuki Peron 3. Aku mendapat tempat duduk di Gerbong 4 tempat duduk di kursi no. 5 B. Kebetulan penumpang disampingku seorang lelaki dari Surabaya yang hendak turun di Purwokerto. Ah lumayan pikirku bisa agak leluasa kalau duduk sendiri. Tak lama setelah kereta berangkat, aku lihat tempat duduk didepanku, deretan kursi no 6 A dan 6 B ternyata kosong, aku langsung pindah dikursi tersebut. Karena kelelahan, aku sempat tertidur pulas di ruangan yang begitu dingin meski sudah dibalut kain selimut. Tak terasa dua setengah jam kemudian kereta memasuki Stasiun Purwokerto. Betul juga lelaki yang tadi disampingku langsung turun, aku tadinya mau pindah ketempat dudukku yang benar, ah... tapi udahlah kecuali kalau tempat duduk yang sekarang aku duduki ada yang punya. Hem.... ternyata tempat duduk yang kududuki benar kosong, sementara di barisan kursi No. 5 di tempat dudukku yang asli ada seorang perempuan muda yang baru naik dari Stasiun Purwokerto.

Tidak lama setelah kereta meluncur, sang wanita tadi asyik bertelpon ria, sementara aku yang sejak semula kursiku agak kurobohkan membuat jarak tidak terlalu jauh dengan wanita tersebut. Karena sudah lumayan tidurku, setelah dari Stasiun Purwokerto aku masih terjaga, apalagi denger suara orang nelpon, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dinihari. Cukup lama ia ngobrol, sampai jam 01.30 masih saja terus ngobrol, isinya kelihatan hal2 yang menyangkut kemesraan. Ah, anak muda ini lagi ngobrol sama pacarnya, sperti yang sering aku dengar manakala lagi naik travel ataupun kereta. Akupun tidak memedulikannya, pun toh aku dulu juga pernah muda. Cuman, setelah sekian lama bertelpon ada sesuatu yang mengagetkannku, intinya”Ah kamu jangan ngomong aja donk, buktikan !!! Oh ya, kamu udah mau sampe kerumah ya ? Kalau udah sampe rumah jangan telpon aku lagi ya, entar ketahuan istrimu !!!” Masya Alloh, ternyata sang wanita muda it sedang bermesraan lewat telpon dengan suami orang. Benar kata istriku, untuk senantiasa berhati-hati, sekarang ini banyak sekali wanita yang tidak lagi melihat status lelaki apa sudah menikah ataupun belum, yang penting bisa diajak enjoy......, berapapun usianya digasak. Hal itu cukup banyak terjadi di Cirebon, bahkan sempat ada teman istriku yang suaminya kepincut dengan teman anaknya yang sedang kuliah..... Masya Alloh, untung bisa cepat ketahuan dan diselamatkan. Padahal kalu orang beriman tahu kalo sekali melakukan zina segala amalan baiknya selama 70 tahun akan sirna, seharusnya bisa menjadi bahan pertimbangan utama untuk menjunjung tinggi tali perkawinan nan suci. Tidak harus kita mulai lagi dari NOL seperti di pom bensin karena sirnanya segala amal baik yang telah kita lakukan. Na’udzubillahimindhalik.